Wednesday, January 28, 2009

PEMICU KERUSAKAN OTAK


Otak adalah organ tubuh vital yang merupakan pusat pengendali sistem syaraf pusat. Otak mengatur dan mengkordinir sebagian besar gerakan, perilaku dan fungsi tubuh homeostasis seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan suhu tubuh.
Otak juga bertanggung jawab atas fungsi seperti pengenalan, emosi. ingatan, pembelajaran motorik dan segala bentuk pembelajaran lainnya.
Sungguh suatu tugas yang sangat rumit dan banyak. Maka, hindarilah kebiasaan buruk di bawah jika Anda masih ingin otak Anda bekerja dengan baik.

1. Tidak mau sarapan
Banyak orang menyepelekan sarapan, padahal tidak mengkonsumsi makanan di pagi hari menyebabkan turunnya kadar gula dalam darah. Hal ini berakibat pada kurangnya masukan nutrisi pada otak yang akhirnya berakhir pada kemunduran otak.

2. Kebanyakan makan
Terlalu banyak makan mengeraskan pembuluh otak yang biasanya menuntun kita pada menurunnya kekuatan mental.


3. Merokok
Merokok ternyata berakibat sangat mengerikan pada otak kita. Bayangkan, otak kita bisa menyusut dan akhirnya kehilangan fungsi-fungsinya. Tak ayal diwaktu tua kita rawan Alzheimer.

4. Terlalu banyak mengkonsumsi gula
Terlalu banyak asupan gula akan menghalangi penyerapan protein dan gizi sehingga tubuh kekurangan nutrisi dan perkembangan otak terganggu.

5. Polusi udara
Otak adalah bagian tubuh yang paling banyak menyerap udara. Terlalu lama berada di lingkungan dengan udara berpolusi membuat kerja otak tidak efisien.

6. Kurang tidur
Tidur memberikan kesempatan otak untuk beristirahat. Sering melalaikan tidur membuat sel-sel otak justru mati kelelahan.

7. Menutup kepala ketika sedang tidur
Tidur dengan kepala yang ditutupi merupakan kebiasaan buruk yang sangat berbahaya karena karbondioksida yang diproduksi selama tidur terkonsentrasi sehingga otak tercemar. Jangan heran kalau lama kelamaan otak menjadi rusak.

8. Berpikir terlalu keras ketika sedang sakit
Bekerja keras atau belajar ketika kondisi tubuh sedang tidak fit juga memperparah ketidakefektifan otak.

9. Kurangnya stimulasi otak
Berpikir adalah cara terbaik untuk melatih kerja otak. Kurang berpikir justru membuat otak menyusut dan akhirnya tidak berfungsi maksimal.

10. Jarang bicara
Percakapan intelektual biasanya membawa efek bagus pada kerja otak.

Read More..

Sunday, January 25, 2009

Bagaimana otak dibentuk dan berkembang ?


Seperti yang kita ketahui bersama, tubuh manusia dibentuk oleh sel-sel. Begitu juga dengan otak. Otak manusia mulai dibentuk pada saat bayi masih di dalam kandungan, tepatnya pada minggu ketiga setelah bertemunya sperma dengan sel telur. Pada saat bayi dilahirkan, dia sudah mempunyai kira-kira 100 milyar sel otak, tetapi sel-sel otak tersebut masih belum terhubung dalam satu jaringan antara satu dengan yang lainnya. Pada kondisi ini, otak masih belum ‘matang’.
Jaringan yang akan dibentuk oleh sel-sel otak inilah bagian yang sangat penting. Pembentukan sel-sel otak ini akan dipengaruhi oleh bagaimana bayi tersebut terhubung langsung dengan ‘dunia’. Dan dari kacamata bayi, dunia tersebut adalah ANDA. Anda adalah guru utama dan terpenting dari otak bayi anda. Meminjam istilah dari Dr. Bruce Perry diatas, “Andalah yang menjadi kepala arsitek pembentukan otak bayi anda”.
Bayi belajar dari cara anda melihatnya, dari ekspresi wajah anda yang anda tunjukkan kepadanya ; bayi mendengar bagaimana anda bicara, menyanyikan lagu atau membacakan buku kepadanya ; bayi merasakan bagaimana anda menyentuhnya. Sentuhan ini adalah hal yang paling penting, karena dengan sentuhan ini akan memberikan rangsangan kepada bayi supaya otaknya menghasilkan hormon-hormon yang penting untuk pertumbuhannya.
Hubungan antar sel-sel otak dibentuk dengan adanya saling kirim-dan-terima signal. Signal yang berupa getaran aliran listrik ini mengalir dari sel yang satu ke sel yang lainnya, dan dengan bantuan zat kimia seperti serotonin, terbentuklah hubungan antara sel-sel otak tersebut. Rangsangan yang terus-menerus, yang anda berikan melalui bentuk kegiatan yang berulang-ulang, akan semakin memperkuat hubungan antar sel-sel otak. Satu sel otak mampu membuat 15.000 hubungan dengan sel otak yang lain. Hubungan yang sangat rumit inilah yang membentuk jaringan antar sel-sel otak.
Pengalaman yang diterima oleh bayilah yang akan menentukan bentuk jaringan di dalam otak. Sejak bayi lahir, jaringan ini akan dibentuk dengan cepat sekali, dan pada usia anak mencapai 3 tahun, otak anak anda akan membuat kira-kira 1000 trilyun hubungan, dimana jumlah ini adalah 2 kali lipat dari jumlah hubungan jaringan otak pada orang dewasa. Hubungan otak yang densitas/kerapatannya sangat tinggi ini akan tetap dipertahankan sampai dengan umur 10 tahun.


Setelah itu, apa yang akan terjadi ?
Setelah anak menginjak usia 11 tahun, hubungan antar sel-sel otak tersebut akan diseleksi secara alami, dimana hubungan yang sering digunakan akan semakin diperkuat dan menjadi permanen, sedangkan hubungan yang tidak pernah digunakan akan diputus/dibuang. Disinilah pentingnya pengalaman pada usia awal/dini. Sebagai contoh, anak yang jarang diajak bicara atau dibacakan buku, nantinya dia akan mengalami kesulitan dalam perkembangan bahasanya, karena sel-sel otak yang mengendalikan fungsi bahasa tidak dipergunakan dengan baik, sehingga hubungan antar selnya diputus.
Perkembangan hubungan antar sel-sel otak tentunya tidak terjadi sekaligus, tetapi berurutan berdasarkan prioritas pertumbuhan bayi tersebut. Artinya, kemampuan yang harus dipunyai bayi untuk bertahan hidup pada usia tertentu akan dibentuk terlebih dahulu daripada kemampuan lain yang diperlukan nanti.
Contohnya begini, selama masa kehamilan, sel-sel otak akan membentuk “cortex” (bagian otak yang digunakan untuk berpikir) pada tempatnya dan pada waktu yang tepat. Waktu ini disebut sebagai “waktu utama” atau “periode peka”. Kegagalan pembentukan bagian ini akan berakibat pada terganggunya perkembangan (atau bahkan tidak terbentuknya) bagian tersebut, sehingga bayi akan lahir dalam keadaan cacat mental. Kegagalan pembentukan bagian penting ini dapat terjadi akibat dari ibu yang suka minum minuman keras, merokok atau obat-obatan terlarang, atau akibat dari infeksi toxoplasma, dsb.
Periode peka perkembangan otak terjadi pada saat bayi belum lahir dan sesudah lahir. Panjang periode peka tersebut bisa lama, dan bisa juga sangat pendek. Dr. Montessori telah banyak melakukan penelitian tentang periode peka pada perkembangan anak, jauh sebelum para ahli syaraf mengetahui tentang cara kerja bagian-bagian otak. Ternyata, periode peka yang ditemukan oleh Dr. Montessori itu berhubungan erat dengan periode dimana jaringan otak yang mengendalikan fungsi-fungsi tubuh itu sedang tumbuh dan berkembang.
Menurut Dr. Montessori, periode peka yang penting dalam perkembangan anak adalah :
0 – 3 tahun Periode penyerapan secara total, perkenalan dan pengalaman indera dan gerakan senso-motorik.
1,5 – 3 tahun Perkembangan kemampuan bahasa.
1,5 – 4 tahun Perkembangan koordinasi antara mata dengan otot tangan. Anak mulai memperhatikan benda-benda kecil.
2,5– 3,5 tahun Menyenangi ketertiban dan keteraturan
2–4 tahun Perkembangan penyempurnaan gerakan. Anak mulai memperhatikan hal-hal yang nyata, menyadari tentang urutan waktu dan ruang.
2,5– 6 tahun Penyempurnaan penggunaan seluruh indera.
3– 6 tahun Peka terhadap pengaruh orang dewasa.
3,5– 4,5 tahun Mulai senang menulis.
4,5– 5,5 tahun Mulai senang membaca.
4 – 4,5 tahun Indera menjadi lebih peka.
Munculnya periode peka ini bisa berlainan pada tiap-tiap anak, tergantung pada faktor keturunan dan terlebih lagi pada stimulasi-stimulasi yang pernah diterimanya.
Pada periode peka ini, anda akan lebih mudah mengajarkan hal-hal yang sedang peka itu daripada setelah periode peka ini berakhir. Hubungan anda dengan anak anda akan sangat mempengaruhi berhasil tidaknya anak anda menerima stimulasi, yang pada akhirnya menentukan bagaimana jaringan otak anak anda akan dibentuk.
Para ahli telah menemukan bahwa dengan memberikan kehangatan dan kasih sayang, serta memberikan response dengan cepat, anda akan memperkuat sistem biologis yang membantu anak anda mengendalikan emosinya, sehingga mampu beradaptasi dengan lebih baik apabila anak anda mengalami saat-saat stress.
Dari hal-hal diatas, bisa diambil ringkasan bahwa prinsip-prinsip perkembangan otak adalah sebagai berikut :
* Dunia luar atau lingkungan akan mempengaruhi bentuk jaringan otak.
* Dunia luar, yang dialami oleh anak melalui penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan dan rasa, akan mampu memerintahkan otak untuk membuat dan merubah bentuk hubungan jaringan.
* Otak bekerja dengan prinsip : “digunakan atau dibuang”.
* Hubungan dengan orang lain pada awal kehidupan anak menjadi sumber utama dalam perkembangan otak, terutama bagian otak yang mengendalikan emosi dan sosial.

Read More..

Saturday, January 17, 2009

KERJA OTAK UNTUK MEMUNCULKAN ILUSI SENSASI


Pernahkah kita berpikir tentang otak kita? Mungkin sering kali kita tidak sadar bahwa ada suatu rahasia besar di balik kehebatan otak kita yang selama ini kita belum tahu. Bahkan para ilmuwan memasukkan pembahasan tentang otak dalam bahasan khusus, atau ada istilah brainnomi―disejajarkan kandungan misterinya seperti dalam ilmu astronomi yang belum banyak rahasia terkuak. Apa rahasia di balik sebuah daging yang dibungkus kulit, di mana menempelnya pusat-pusat syaraf yang berhubungan dengan seluruh indera kita? Saya akan mencoba sedikit menguak rahasia otak kita yang telah diketahui para ilmuwan lewat tulisan ini.

Anda mungkin sudah sering mendengar kelainan seseorang, yang berputar masalah persepsi atau indera. Misalnya kelainan buta warna, phobia (ketakutan berlebihan terhadap sesuatu) atau mungkin sinesthesia, istilah yang terakhir ini mungkin jarang terdengar. Saya akan mencoba menerangkan singkat masing-masing kelainan ini, sebagai contoh sebelum saya menjelaskan kerja otak. Ketiga kelainan tersebut berkaitan dengan kerja otak kita― yang bekerja seperti komputer ―supaya kita mengerti mengapa kelainan itu bisa terjadi. Kelainan buta warna didefinisikan sebagai sebuah kesulitan seseorang untuk membedakan warna yang sangat berdekatan, misalnya merah dan jingga, atau hijau muda dan kuning. Ternyata semua itu terjadi di dalam otaknya, artinya di pusat penglihatan sel-sel syarafnya tak mampu menginterpretasikan warna itu. Lain halnya dalam kasus phobia bisa dibilang adalah kasus yang ekstrim, karena seseorang menderita ketakutan (kebanyakan terjadi karena trauma masa lalu) hanya karena hal-hal yang biasa saja, misalnya, takut hewan-hewan atau benda tertentu, takut ketinggian, tempat gelap, lorong panjang, dan sebagainya. Di mana yang menjadi masalah adalah peristiwa itu membuat seseorang menjadi “gila” dalam arti jantung berdebar-debar, berkeringat, menangis atau berteriak-teriak kesakitan atau bisa sesak napas dan kejadian-kejadian “aneh” lainnya. Semua itu terjadi akibat memori masa lalu yang dihadirkan kembali oleh otak penderita karena pikiran si penderita itu sendiri, yang menyebabkan si otak bekerja agar merasakan sensasi―rasa sakit, panas atau apapun―dan memerintahkan organ-organ lain bekerja seakan-akan dalam situasi ‘darurat’ sesungguhnya yang merupakan khayalan (tapi mungkin pernah dialami) si penderita, namun hal itu tetaplah nyata baginya, hingga dapat membahayakan diri si penderita jika dibiarkan.


Dalam kasus terakhir, yaitu kelainan sinesthesia, bukanlah kelainan yang membahayakan, bahkan mungkin bisa dianggap sebagai anugrah. Kelainan ini didefinisikan berupa tercampurnya persepsi panca indera, para sinesthesiker ibaratnya menangkap persepsi lingkungan lebih luas ketimbang orang normal. Misalnya, nasi putih rasanya kuning, atau sebuah komentar suatu masakan “rasa ayamnya kurang banyak titiknya”, atau angka lima kenyal seperti karet, hari senin warnanya biru. Francis Galton, seorang ilmuwan inggris melakukan penelitian kepada para sinesthesiker lalu menarik kesimpulan, bahwa bentuk sinesthesia yang paling umum adalah mendengar warna. Kesan yang ditimbulkan dari penerapan informasi (dalam otak), diolah dalam spektrum yang kemungkinan yang lebih lebar. Fenomena sinesthesia ini pernah diteliti lebih jauh di sekolah tinggi kedokteran Jerman. Dari penelitian itu, ditemukan kurva gelombang otak yang berbeda secara signifikan dengan kurva gelombang otak manusia normal. Di dalam otak pengidap sinesthesia, informasi dari luar ditafsirkan secara luas dan beraneka ragam, artinya ketika ada informasi dari panca indera―misalnya suara―tidak hanya diterima syaraf pusat pendengaran, tapi mungkin saja diterima juga oleh syaraf-syaraf pusat pengecapan atau peraba atau juga pusat penglihatan yang menginterpretasikan warna dan rasa sehingga orang bisa berkata makanan ini rasanya kuning, atau musik Iwan Fals terdengar lembek hijau, dan sebagainya. Persepsi yang multi dimensional ini, juga berfungsi sebagai acuan memori yang kuat. Contohnya komposer musik klasik terkemuka, Franz Liszt yang mengakui, melihat aneka warna jika ia membuat komposisi musiknya. Ahli fisika pemenang hadiah Nobel, Richard Feynman juga mampu merumuskan hitungan fisika yang sulit. Kuncinya, ternyata ia seorang sinesthesiker yang melihat warna-warni dalam persamaan yang dibuatnya. Yah menurut saya bagian ini sudah cukup sebagai contoh sedikit kehebatan yang bisa diperbuat oleh otak kita.


Kita sudah mengetahui cara kerja otak kita yang bekerja seperti sebuah super komputer yang rumit nan canggih, yang merekam informasi dari ‘dunia luar’ lalu diinterpretasikan oleh syaraf-syaraf pusat indera kita, tentang apa itu warna, rasa pengecapan, bau dan rasa keras, lembut, sakit, panas, kemudian diinformasikan kepada diri kita. Sehingga kita dapat merasai kehidupan dunia seperti sekarang ini dan juga termasuk alam mimpi yang nyata. Namun marilah coba pertajam pikiran logis kita dari fakta dan data di atas, bahwa sesungguhnya alam ini tidak mutlak seperti yang kita pikirkan selama ini, karena otak adalah ‘mesin komputer’ yang memiliki pusat persepsi indera-indera (pusat penglihatan seperti monitor, atau pusat pendengaran seperti speaker) untuk kita rasakan, yang dapat dimanipulasi. Paparannya tentang hal itu akan saya tulis di paragraf selanjutnya.

Saya mencoba menggunakan sebuah contoh, atau lebih ekstrim bisa disebut kasus ‘manipulasi’ otak. Bagaimana seandainya ada ilmuwan mencoba menciptakan seorang sinesthesiker buatan namun sangat ektrim? Mari kita lihat. Para ilmuwan telah sedikit banyak mengetahui segala sensasi rasa yang kita rasakan diatur dalam otak, contoh; inti ventromedial hipotalamus adalah bagian dari otak yang mengatur respon dan sensasi dari rasa lapar, kenyang, dan rangsangan seksual. Kemudian bila ada ilmuwan dengan peralatan canggih ‘mengalihkan’ sinyal-sinyal masukan yang menuju inti ventromedial hipotalamus itu ke pusat penginderaan rasa panas, dingin kemudian diparalelkan ke pusat penciuman dan pusat penginderaan warna! Apakah yang terjadi? Ilmuwan itu telah ‘membuat’ manusia pengidap sinesthesia ‘ekstrim’! Sinesthesiker itu tidak akan pernah merasakan rasa lapar, kenyang ataupun kenikmatan seksual! Yang terjadi adalah apabila ia selesai makan; mungkin dia berkata: “perutku rasanya panas kebiruan”, atau “perutku terasa bau busuk hijau”, begitu juga ketika ia lapar atau mendapat rangsangan seksual. Namun ada satu hal penting yaitu: ilmuwan itu tidak perlu menggunakan materi sesungguhnya untuk mendapatkan sensasi rasa tersebut! Dia hanya perlu memberi input sinyal-sinyal listrik dari luar―seperti mendapat rangsangan sesungguhnya―ke pusat-pusat pengindraan, sehingga si sinesthesiker benar-benar merasakan sensasi rasa tersebut. Jadi memang benar bahwa sensasi rasa adalah sesuatu yang relatif, tergantung di otak kita. Inilah kira-kira contoh yang bisa saya berikan untuk menjelaskan bahwa otak adalah mesin pembuat sensasi yang bisa dimanipulasi tanpa keberadaan mutlak rangsangan obyek materi.

Apa yang bisa kita simpulkan dari penjelasan di atas adalah bahwa dunia yang kita rasakan ini adalah sebuah kerelatifan semata. Karena ‘dunia luar’ ada hanya sebatas kemampuan indera dan otak kita. Dan ternyata otakpun dapat dimanipulasi, seperti kejadian mimpi dan kasus kelainan otak lain, yang membuat ‘dunia lain’, sebagaimana anjing yang diteliti ilmuwan, hanya mampu melihat warna dari tingkatan putih, abu-abu, dan hitam, namun memiliki ‘sensor’ penciuman yang tajam, begitu pula hewan yang lain memiliki ‘dunia yang berbeda’. Artinya, dari semua kerelatifan ini semua hakikatnya adalah ilusi (namun tidak berarti materi tidak ada)!

Read More..

Monday, January 5, 2009

Stres Itu Menguras Nutrisi Otak


Ada kalanya stres diperlukan untuk memacu prestasi. Tapi jangan anggap enteng stres yang berulang, karena ia akan seperti badai yang menguras nutrisi otak dan memunculkan berbagai penyakit fisik. Pilih mana, lari dari tembakan aparat yang menggunakan peluru tajam saat berdemonstrasi menuntut reformasi, atau menghadapi lalu lintas yang macet total selama dua jam karena demonstrasi? Mungkin Anda akan dengan cepat berkata, “Tidak semuanya.” Tapi kalau diharuskan memilih, biasanya orang cenderung memilih lalu lintas yang macet. Kedua situasi itu memang akan menimbulkan reaksi yang sama pada fisik dan psikis kita. Yaitu stres, dan darah serta adrenalin mengalir deras. Tapi kalau mengacu pada pendapat ahli endokrinologi dari Universitas Rockefeller di New York, Bruce McEwen, sebaiknya pilih ditembaki aparat saja. Bahkan lebih baik dikejar harimau lapar daripada menghadapi kemacetan lalu lintas. Kok, bisa? McEwen punya alasan. Lari dari tembakan aparat atau dari kejaran harimau hanya akan mendatangkan stres yang singkat walaupun tampaknya lebih menakutkan, sedangkan tubuh kita sudah dirancang supaya mampu menghadapi situasi seperti itu. Lain halnya stres yang lama, berulang-ulang, dan kronis, tubuh kita tidak dipersiapkan untuk itu dan akibatnya dapat merusak otak.
Stres atau keadaan yang menekan secara fisik maupun psikis, sering dianggap sebagai ‘teman’. Disebut teman, karena ada kalanya situasi menekan itu justru mampu menghasilkan prestasi dan produktivitas. Karena itu para psikolog sering menasihati, stres tidak perlu dihindari atau pun dilawan, tapi dikelola.

Sayang, tak semua orang mampu mengelola stres, sehingga banyak penyakit (fisik) yang timbul. Mulai dari maag, liver, jantung, stroke, kanker dan sebagainya. Karena itu semboyan dalam tubuh sehat terdapat jiwa yang sehat, tidak tepat lagi. Ilmu pengetahuan menunjukkan, dalam jiwa yang sehatlah terdapat tubuh yang sehat.

Membentuk Memori
“Perasaan kecewa maupun kehilangan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, stres yang berbeda-beda setiap hari, semuanya memberi dampak,” ujar Dra. Nilam Widyarini, MS., lulusan Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Yogya.

Pengajar di Universitas Atmajaya Jakarta ini lantas menerangkan, keadaan yang menimbulkan stres, baik secara fisik maupun psikis, akan menimbulkan reaksi kimia luar biasa pada tubuh. Segera setelah seseorang mengalami situasi stres, otak akan mengirim pesan kepada saraf agar melepaskan adrenalin dan kimia otak lain, untuk dikirimkan sebagai energi kepada otot.
Yang lebih penting lagi, ada bagian kecil pada otak yang disebut hippothalamus, akan mengirim pesan kepada kelenjar di bawah otak agar mengalirkan hormon corticotrophin ke dalam darah. Pada gilirannya, hormon ini akan meminta kelenjar adrenal supaya mengeluarkan lebih banyak hormon stres (glucocorticoids). Hormon ini akan memerintahkan tubuh supaya membanjiri darah dengan gula, agar segera memiliki energi untuk lari dari bahaya.

Hormon stres terutama sekali tampak ‘menggemparkan’ bagi bagian otak yang disebut hippocampus. Bagian inilah yang memainkan peranan penting dalam membentuk memori.
Dalam buku panduan mengenai stres berjudul Why Zebras Don’t Get Ulcers, Robert Sapolsky menjelaskan bahwa jika berhasil mengatasi situasi stres, kita ingin bisa mengingatnya supaya lain kali bisa menghindarinya. Dalam peristiwa yang sangat mengguncangkan, biasanya memori akan menajam. Mungkin inilah yang bisa menjelaskan, mengapa kita sulit melupakan tragedi ‘65 atau kerusuhan Mei ‘98.

Stres Berulang
Kadang orang mengalami stres secara berulang, dan akibatnya glucocorticoids akan membanjiri otak. Lama kelamaan manfaat hormon stres hilang, sehingga memori akan memburuk, tingkat energi turun, dan problem kesehatan muncul. Menurut Sapolsky, dalam beberapa hari saja hormon stres meningkat, akan melemahkan (bahkan mematikan) sel hippocampal jika suplai oksigen terhenti, seperti yang terjadi saat stroke atau serangan jantung.

Stres traumatik seperti yang terjadi pada anak-anak korban kekerasan seksual, veteran maupun korban perang, tentu saja lebih besar kemungkinannya merusak otak. Dalam American Journal of Psychiatry dijelaskan bahwa veteran perang rata-rata hippocampal otak kanannya berkurang 8%. Anak korban kekerasan seksual ukuran hippocampal pada otak kirinya berkurang 12%.

Studi lain yang dilakukan intensif selama empat tahun terhadap sekelompok wanita diketahui, mereka yang hormon stresnya sering meningkat, hippocampal pada otaknya berkurang 14%. Dari pemeriksaan pasien depresi diketahui, ukuran hippocampal-nya berkurang 19% dibanding orang yang sehat. Melihat akibatnya yang sangat buruk itu, satu-satunya cara agar kita tetap sehat adalah sebisa mungkin mengelola stres.

Cara Mengelola Stres
1. Ambil liburan secara teratur.
2. Makanlah makanan sehari-hari yang menyehatkan.
3. Hindari kafein, alkohol dan tembakau.
4. Lakukan olahraga secara teratur.
5. Berlatihlah beberapa teknik rileksasi seperti yoga, meditasi, latihan pernapasan.
6. Hadapilah masalah yang terjadi dalam pekerjaan maupun hubungan (relationship), dan pecahkan.
7. Belajarlah untuk mengenali ambang stres Anda sendiri, dan jangan memaksakan diri untuk melampauinya.
8. Pertimbangkan untuk memiliki hewan peliharaan, karena bisa membantu Anda menjadi rilek.
9. Bicarakan masalah Anda dengan ahlinya. Konselor profesional dapat membantu melihat persoalan secara obyektif, dan menempatkan masalah dalam perspektif yang tepat.

Read More..